Yang hobi tidur wajib baca ini !!! Waktu Tidur yang Dianjurkan dan tidak Dianjurkan
VQIHZ-1N7BP-MJGWR-MFFIO

Yang hobi tidur wajib baca ini !!! Waktu Tidur yang Dianjurkan dan tidak Dianjurkan


 

Waktu tidur itu adalah waktu yang paling efektif tubuh kita untuk meremajakan dirinya, dan waktu tidur Nabi Muhammad SAW adalah beliau tidur umumnya setelah isya. Nanti setelah sekitar jam 1 atau jam 2 bangun untuk sholat malam. Tidur adalah salah satu aktifitas yang dilakukan oleh manusia disetiap harinya. Dengan porsi tidur yang cukup, seseorang dapat menjalankan aktifitas keseharian nya secara maksimal. Dalam Al-Quran dijelaskan :


وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah  tidurmu diwaktu malam dan siang hati dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan"(QS-Ar-Rum:23).

Porsi tidur yang ideal bagi manusia dalam sehari semalam adallah kisaran  enam sampai delapan jam, dengan menyertakan tidur qailulah (tidur sebentar) di siang hari. (Jalaluddin as-Suyuthi, ar-Rahmah fi at-Thib wa al-Hikmah, hal.20)

Meski demikian, tidur juga dibagi menjadi tiga macam.

Pertama    : Tidur Hailullah adalah tidur sehabis melaksanakan sholat subuh, dinamakan demikian karena tidur tersebut dapat menghalangi mu dari rezki yang Allah SWT tebar pafa waktu pagi.
Kedua       : Tidur Qailullah adalah tidur sebelum melaksanakan sholat dzuhur sekitar 25-30 menit sebelum dikumandangkan adzan dzuhur Tidur jenis ini sangat bermanfaat.
Ketiga      : Tidur Ailullah adalah tidur sehabis melaksanakan sholat ashar, tidur jenin ini dapat menyebabkan berbagai penyakit, diantaranya adalah sesak nafas, murung, dan gelisah ketika bangun.

Ada waktu-waktu tertentu yang tidak dianjurkan bagi seseorang untuk tidur

Pertama, tidur setelah sholat subuh sampai terbitnya matahari. Tidur diwaktu ini dipandang akan menjadikan orang yang melakukannya terhalangi mendapatkan berkahnya rezki dan umur. Sebab waktu tersebut merupakan waktu diturunkannya keberkahan rezki pada seseorang. Hal ini sepeti dijelaskan oleh Habib Zain bin Smith:

النوم بعد الصبح يذهب بركة الرزق والعمر لأن بركة هذه الأمة فى البكور وهو بعد صلاة الفجر إلى طلوع الشمس.

"Tidur setelah subuh dapat menghilangkan berkah rezki dan brekah umur, sebab berkahnya umur ini ada di waktu pagi, yakni waktu setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari".(Habib Zain bin Smith, Fawaid al-Mukhtarah, Hal 590).

Kedua, Tidur setelah masuk waktu ashar. Tidur pada waktu ini beresiko mengurangi daya aktif akal pelakunya. Dalam satu hadis dijelaskan:

مَنْ نَامَ بَعْدَ الْعَصْرِ فَاخْتُلِسَ عَقْلُهُ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

"Barang siapa tidur setelah waktu Ashar, lalu hilang akalnya, maka jangan pernah salahkan kecuali pada dirinya sendiri"(HR Ad-Dailami).
Meski para ulama menghukumi hadis diatas sebagai hadist dlaif namun hadist diatas masih relavan dalam konteks fadla'il al-a'mal (perbuatan keutamaan).

Pernah ada seseorang menyangsikan penjelasan salah satu pendakwah tentang resiko tidur setelah ashar. Akhirnya diapun mencoba untuk tidur setelah ashar untuk membuktikan apakah benar tidur diwaktu tersebut akan beresiko menjadikan pelakunya sebagai orang yang gila.

Ia pun mencoba tidur setelah sholat Ashar, tidurnya tampak terlelap hingga ia baru terbangun saat waktu sudah menginjak separuh malam (dini hari). Setelah terbangun ia langsung bergegas pada pendakwah tadi untuk komplain:

"Engkau pernah berkata kalau tidur setelah ashar mengakibatkan gila atau hilangnya akal. Lihat aku, lihat aku, aku tidur setelah ashar dan sama sekali tidak merasa gila" ungkap orang tersebut.

Pendakwah tersebut menjawab dengan senyum dan penuh ketenangan:

"Apakah ada perilaku orang gila yang melebihi hal ini, engkau datang menuju rumah seseorang pada saat dini hari sedangkan orang dalam keadaan tidur?."

orang komplain tersebut diam seketika, ia membernarkan ucapan pendakwah tersebut dengan penuh rasa malu. (Habib Zain bin Smith, Fawaid Al-Mukhtarah, hal : 591).

Ketiga, Waktu tidur sebelum melaksanakan sholat isya, Dalam satu hadist sahih dijelaskan:

كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ العِشَاءِ وَالحَدِيثَ بَعْدَهَا البخاري

"Sesungguhnya Rasulullah tidak senang tidur sebelum shalat isya dan berbincang-bincang setelah shalat isya"(HR al-bukhari).

Sebab dimakruhkannya tidur sebelum melaksanakan shalat isya adalah dikarenakan khawatir akan habisnya waktu isya karena tidur terlalu lelap, seperti halnya kebiasaan kebanyakan orang yang tidur dimalam hari namun belum melaksanan shalat isya. Alasan demikian seperti yang dijelaskan dalam kitab 'Umdah Al-Qari Syaray Sahih Al-Bukhari:

وَأما سَبَب كَرَاهَة النّوم قبلهَا فَلِأَن فِيهِ تعرضا لفَوَات وَقتهَا باستغراق النّوم، وَلِئَلَّا يتساهل النَّاس فِي ذَلِك فيناموا عَن صلَاتهَا جمَاعَة. وَأما كَرَاهَة الحَدِيث بعْدهَا فَلِأَنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى السهر، وَيخَاف مِنْهُ غَلَبَة النّوم عَن قيام اللَّيْل وَالذكر فِيهِ، أَو عَن صَلَاة الصُّبْح

“Adapun sebab makruhnya tidur sebelum isya’ karena akan berpotensi hilangnya waktu isya’ dengan menghabiskan waktu untuk tidur dan juga supaya orang-orang tidak menganggap enteng hal demikian, hingga mereka tidur dan meninggalkan shalat isya’ secara berjamaah. Adapun makruhnya berbincang-bincang setelah isya’ karena akan mendorong untuk begadang dan dikhawatirkan akan tertidur hingga meninggalkan qiyamul lail, berdzikir saat malam dan meninggalkan shalat subuh” (Badruddin al-‘Aini, ‘Umdah al-Qari Syarah Shahih al-Bukhari, juz 5, hal. 66)

Sedangkan waktu tidur yang dianjurkan oleh syara’ adalah tidur di waktu qailulah. Dalam hadits dijelaskan: 

قِيلُوا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَقِيلُ

“Tidurlah qailulah (siang hari) kalian, sesungguhnya Syetan tidak tidur di waktu qailulah” (HR ath-Thabrani) Waktu qailulah ini ada yang menafsirkan tidur sebelum waktu dhuhur (tergelincirnya matahari), ada pula yang menafsirkan setelah masuk waktu dhuhur. Yang pasti, fungsi utama tidur qailulah ini adalah sebagai persiapan agar dapat melaksanakan qiyam al-lail dengan shalat dan berdzikir di malam hari. 

Seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali:

 القيلولة وهي سنة يستعان بها على قيام الليل كما أن التسحر سنة يستعان به على صيام النهار 

“Tidur qailulah adalah sunnah yang dapat membantu seseorang untuk melaksanakan qiyam al-lail, seperti halnya sahur hukumnya sunnah yang berfungsi untuk membantu seseorang dalam melaksanakan puasa di siang hari” (Al-Ghazali, Ihya’ ulum ad-Din, juz 1, hal. 338).   

Baca: Delapan Kiat Mudah Bangun Malam menurut Imam al-Ghazali Selain itu, syara’ menganjurkan agar seseorang menjadikan waktu malam sebagai waktu untuk tidur dan istirahat, sedangkan waktu siang untuk bekerja dan beraktivitas. Sebab pola demikianlah yang dipandang ideal dan sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an:

 وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِباساً وَجَعَلْنَا النَّهارَ مَعاشاً 

“Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian (waktu tidur), dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS An-Naba’, Ayat: 10-11) 

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa waktu tidur yang tidak dianjurkan ada pada tiga waktu, yakni tidur setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari, tidur setelah masuknya waktu ashar, dan tidur sebelum melaksanakan shalat isya’. 

Sedangkan waktu tidur yang dianjurkan adalah tidur di waktu qailulah dan menjadikan malam hari sebagai waktu untuk istirahat panjang, sedangkan siang hari dijadikan waktu untuk beraktivitas dengan bekerja. Ketentuan demikian merupakan tuntunan yang diajarkan oleh syara’ bagi orang yang memungkinkan untuk melaksanakannya.

Berbeda halnya bagi orang yang memiliki tuntutan pekerjaan atau profesi yang beraktivitas semalam suntuk, maka dalam kondisi demikian waktu siang dapat ia gunakan sebagai waktu istirahat panjang dengan tetap berupaya untuk tidak tidur di waktu-waktu yang dimakruhkan. Wallahu a’lam.

Sampaikanlah ilmu ini kepada orang lain, semoga mempermudah urusan hisabmu kelak di akhirat dan menjadi sebab pertolongan Allah di hari kiamat.



Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/127948/waktu-tidur-yang-dianjurkan

0 Comments