Tentang Darah Haid Nifas dan Istihadah
VQIHZ-1N7BP-MJGWR-MFFIO

Tentang Darah Haid Nifas dan Istihadah

keislaman, hikmah, belajar tentang darah haid nifas dan istihadah

Perbedaan darah haid, nifas dan istihadah yang keluar dari kelamin perempuan dalam islam




Bagi kaum wanita, tentang darah yang keluar dari bagian kewanitaan adalah penting. Ibadah wajib mengharuskan umat islam untuk suci dari najis, serta bebas dari hadas baik itu hadas kecil dan hadas besar

jenis darah tertentu yang keluar dari bagian kewanitaan melahirkan konsekuensi tertentu, misalnya darah haid dan nifas menjadikan seseorang tidak wajib melaksanakan beberapa ibadah seperti sholat, puasa, dan lain sebagainya.

sedangkan darah istihadah tetap mewajibkan perempuan untuk sholat, puasa dan melaksanakan ibadah yang diwajibkan lainnya.

Dalam madzab syafii sendiri setidaknya terdapat dua pendapat. pendapat pertama mengatakan bahwa daraah yang keluar lagi setelah bersih (mampet) maka darah tersebut dikatagorikan sebagai darah haid. Tetapi dengan catatan bahwa sejak pertama darah yang kelur sampai keluarnya darah yang kedua tidak melebihi lima belas hari, darah yang keluar tidak kurang dari batas minimal haid yaitu satu hari satu malam, dan darah yang berhenti meliputi diantara dua haid.

Pendapat kedua menyatakan behwa ketika darah sudah berhenti atau mapet maka dihukumi suci. Logika yang digunakan pendapat ini adalah bahwa jika keluar darahnya itu menunjukkan haid maka ketika darah itu berhenti menunjukkan suci. Misalnya ketika seorang perempuan mengalami haid selama sepuluh hari kemudian berhenti dan setelah dua hari keluar lagi, maka yang dua hari dihukumi suci.

"Ulama dari kalangan madzhab syafii berpendapat bahwa ketika darah itu kembali setelah bersih (mampet) maka darah keseluruhan darah - yaitu darah yang keluar dan ketika berhenti - dihukumi haid dengan syarat darah yang keluar (dari yang pertama sampai habisnya masa yang kedua) tidak melebihi lima belas hari, tidak kurang dari batas minimal haid, dan mampetnya meliputi diantara dua haid. mereka menamai pendapat ini denga Qaul sahb. Dan inilah yang mu'tamad menurut mereka.

Pendapat kedua menurut kalangan madzhab syafii adalah bahwa pada saat berhenti (mampet) dihukumi suci. Sebab ketika keluarnya darah itu menunjukkan haid maka ketika berhenti menunjukkan ssuci. Pendapat ini disebut qaul laqth".(Wizarah al-awqaf wal asy-syu'un al-islamiyah kuwait, al-mausu'ah al-Fiqhiyyah al-kuwaytiyyah Kuwait-Dar-as-Salasil, cat ke-3 juz, 18,h. 305).

Dilansir dari NU Online secara umum, darah yang keluar dari bagian kewanitaan terbagi menjadi tiga yaitu darah haid, nifas, dan istihadah. Penjelasan dan perbedaan rincinya adalah sebagai berikut:

1.    Darah Haid Darah haid merupakan darah yang keluar dari mekanisme kerja hormonal tubuh perempuan dan dialami dalam siklus rutin. Umumnya, ia keluar lima hingga tujuh hari. Menurut aturan syariat, paling sedikit masa haid adalah sehari semalam, sedangkan paling lama adalah lima belas hari. Darah haid keluar karena meluruhnya dinding rahim. Pemicunya adalah kerja hormon, terutama hormon estrogen dan progesteron, dan ada hubungannya dengan produksi sel telur.

2. Darah Nifas Selepas perempuan melahirkan, biasanya akan keluar darah dari bagian kewanitaan. Darah tersebut dikenal dengan sebutan darah nifas. Secara syariat, paling sedikit, darah nifas keluar sekejab saja dan paling banyak selama 60 hari. Umumnya, darah nifas keluar selama empat sampai enam hingga tujuh pekan. Perempuan yang keluar darah haid dan nifas tidak diperbolehkan salat, puasa, membaca Alqur'an, memegang dan membawa mushaf, berdiam diri di masjid, tawaf, dan berhubungan suami-istri. Untuk ibadah puasa, setelah perempuan tersebut suci, maka ia wajib mengqada puasa sebanyak hari yang ditinggalkannya. Cara bersuci dari darah haid dan nifas adalah dengan mandi janabat selepas darah tidak lagi keluar dari alat kelamin perempuan.

3.   Darah Istihadah Darah istihadah merupakan darah yang keluar dari kelamin perempuan, selain darah haid dan nifas

    Bagi perempuan yang keluar darah istihadah, cara bersucinya adalah dengan membersihkan dulu darahnya, kemudian membalut jalan keluar darah, dan berwudu jika hendak salat wajib.

0 Comments