Mengenal Meugang, Tradisi unik masyarakat Aceh menjelang Ramadhan dan Hari Raya, eratkan kebersamaan Melalui Daging Sapi
VQIHZ-1N7BP-MJGWR-MFFIO

Mengenal Meugang, Tradisi unik masyarakat Aceh menjelang Ramadhan dan Hari Raya, eratkan kebersamaan Melalui Daging Sapi

 



    Meugang adalah tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh, Indonesia. Sebagai salah satu daerah yang Manyoritas  penduduknya adalah muslim, Aceh memiliki banyak tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. salah satunya yaitu "Meugang" atau juga dikenal dengan sebutan Makmeugang, uroe seumesi. 

Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih hewan qurban berupa kambing atau sapi dan dilaksanakan menjelang Ramadhan dan Hari Raya. Menjelang Ramadhan, Masyarakat di Aceh akan ramai-ramai membeli daging sapi, lalu memasaknya dan kemudian menyantapnya bersama keluarga. Tak jarang turut di undanag pula teangga, anak yatim, dan fakir miskin untuk menyantap hidangan bersama.

Terkhusu saat Ramadhan, masyarakat yang merayakan dimaknai sebagai sebuah bentuk suka cita dan kesiapan dalam menyambut bulan penuh berkah tersebut. Selain itu meugang juga dinilai sebagai ajang bersedekah kepada pakir miskin, janda anak yatim piatu dan orang jompo. Sedekah bisa juga berupa daging Mentah atau memberi makan dengan masakan daging.

Menurut masyarakat setempat merayakan meugang bukanlah suatu kewajiban melainkan suatu keharusan. Oleh karena itu setiap hari meugang masyarakat pasti akan merayakannya walau bagaimanapun kondisinya. Bagi yang tidak mampu membeli daging sapi bisa mengganti nya dengan daging ayam ataupun bebek.

Tradisi Meugang ini telah muncul bersamaan dengan penyebaran Agama Islam di Aceh yaitu sekitar abad ke-14 M. Ali Hasjiy menyebutkan bahwa tradisi ini sudah mulai sejak masa kerajaan Aceh Darussalam. Tradisi meugang ini dilaksanakan oleh kerajaan di istana yang dihadiri oleh para sultan, menteri, para pembesar kerajaan serta ulama (Iskandar, 2010:48). 

Pada hari itu raja memerintahkan kepada balai fakir yaitu badan yang  menanangani fakir miskin dan dhuafa untuk membagikan daging, pakaian dan beras kepada fakir miskin dan dhuafa. Semua biayanya ditanggung oleh bendahara Sila Turahim, yaitu lembaga yang menagani hubungan negara dan rakyat di kerjaaan Aceh Darussalam. (Hasjimy, 1983:151).

Denys Lombard dalam bukunya "Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda" menyebutkan adanya upacara meugang di Kerajaan Aceh Darussalam, bahkan menurutnya, disana ada semacam peletakan karanagan bunga di makam para sultan (Lombard:2007:204-205).

Ada yang menyebutkan bahwa perayaan meugang ini dilaksanakan oleh Sultan Iskandar Muda sebagai wujud rasa syukur raja menyambut datangnya bulan Ramadhan, sehingga dipotonglah sapi atau kerbau, kemudian dagingnya dibagikan kepada rakyat setelah perang dan masuk penjajah Belanda, tradisi tersebut masih dilakukan dan dikoordinir oleh para hulubalang sebagai penguasa wilayah. Begitulah hingga saat ini tradisi meugang harus dilesatarikakn dan dilaksanakan oleh berbagai kalangan masyarakat dalam kondisi apapu (Iskandar, 2010:49).

3 Comments