Update Status dan Aktifitas Share, Menurut Hukum Islam
VQIHZ-1N7BP-MJGWR-MFFIO

Update Status dan Aktifitas Share, Menurut Hukum Islam

Menjadikan Tuhan sebagai kekasih adalah impian para salik (orang yang merindukan kebenaran). Caranya adalah


Mengubah Perspektif Update Status Di Medsos

Tulisan ini akan fokus pada aktifitas update status dari perspektif untuk membangun keintiman dengan Tuhan. Aktifitas share, yang merupakan salah satu bentuk update status, secara hukum Islam, sama dengan hukum berkata.

Artinya, jika share itu mengandung hoaks, sedangkan hoaks adalah bohong, berarti dia telah berkata bohong. Dengan kata lain, dia telah melakukan dosa. Bahkan, bisa jadi, aktifitas share hoaks itu termasuk ke dalam gibah (ngerasani atau bergunjing) dan namimah (memfitnah). Jelas, gibah dan namimah termasuk dosa.

Penulis jadi teringat kisah seseorang yang meminta satu buah nasehat kepada Rasul. Lalu Rasul memberinya nasehat; yaitu jujur. Singkat cerita, orang yang perilakunya tercela itu bisa diselamatkan dari perilaku tercelanya dengan cara jujur. Maka, orang yang suka berbohong, sulit untuk memperbaiki perilaku tercelanya. Jika seseorang ingin memperbaiki perilaku atau perbuatannya yang tercela, dia harus mulai untuk jujur. Artinya, untuk menjadi orang yang baik, berhentilah untuk menebar hoaks, atau berhentilah share info tanpa peduli informasi itu hoaks.




Menjadi Kekasih Tuhan

Menjadikan Tuhan sebagai kekasih adalah impian para salik (orang yang merindukan kebenaran). Caranya adalah dengan selalu mengaitkan segala sesuatu dengan-Nya, agar koneksi sinyal di hati tidak pernah putus dengan-Nya. Ketika dia makan, dia menyadari bahwa makan adalah kenikmatan dari-Nya. Ketika tersandung, dia menyadari bahwa sakit adalah salah satu cara Dia menyapanya.

Intinya, segala sesuatu adalah tentang Dia. Seperti seorang kekasih yang selalu mengingat kekasihnya, dan selalu mengait-ngaitkan segala sesuatu dengan kekasihnya. Seperti lagu, “mau makan, teringat padamu. Mau minum, teringat padamu. Mau tidur pun, teringat padamu”. Bahkan, bagi seseorang yang sedang dimabuk cinta, hal yang tidak ada kaitannya dengan kekasihnya, bisa menjadi ada kaitannya.




Intim Dengan Tuhan Dengan Update Status

Begitu pula dengan aktifitas update status. Setiap peristiwa, ingin diabadikan ke dalam status. Seakan-akan, setiap peristiwa itu selalu menyalakan alarm di dalam hati untuk di-upload ke dalam fb, wa, ig, dan medsos lainnya. Dalam bahasa tasawuf, alarm di dalam hati itu, jika dikoneksikan dengan Tuhan, disebutkan yaqdzah (kesadaran, seperti seseorang yang sadar baru bangun tidur).

Bayangkan, jika update status itu diganti, dari medsos ke Tuhan, setiap kali ingin update status ke medsos, jangan update ke medsos, tetapi hentakkan perasaan itu kepada Allah. Update status itu kepada-Nya. Betapa indah hati yang selalu update statusnya kepada-Nya. Tentu saja, ini akan terasa pahit pada awalnya. Namanya juga perjuangan dan obat. Tetapi, jika hal ini menjadi kebiasaan, maka setiap update status akan menimbulkan kebahagiaan. Bagaimana mungkin seorang kekasih tidak merasakan kelezatan ketika bermesraan dengan kekasihnya.


Lagipula, update status yang berisi kesedihan, kemurungan, dan kemalangan, tidak menyelesaikan masalah, malah sebenarnya semakin menambah kesedihan, kemurungan, dan kemalangan itu sendiri. Iya, kan! Jika kesedihan dan kemalangan itu di-update kepada-Nya, tentu Dia akan mengubahnya menjadi kebahagiaan. Coba deh rasakan bedanya! Cobalah untuk melatihnya. Ini perlu latihan dan perjuangan.

Terutama, update status tentang harapan dan doa. Sebenarnya aneh, berharap dan berdoa kok di medsos. Update-lah status harapan dan doa kepada-Nya. Hanya Dia yang bisa mengabulkan, bukan medsos.

Oleh:

0 Comments