Negara Indonesia, Menurut Pandangan Islam
VQIHZ-1N7BP-MJGWR-MFFIO

Negara Indonesia, Menurut Pandangan Islam

Polemik hubungan agama dan negara di Indonesia, sudah selesai. Yaitu

Negara Indonesia, Menurut Pandangan Islam

Polemik hubungan agama dan negara di Indonesia, sudah selesai. Yaitu bahwa dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Bukan al-Quran dan al-Sunah. Meskipun, Pancasila sebenarnya tidak bertentangan dengan dua sumber primer Islam itu. Itu artinya bahwa, negara dan agama tidak bertentangan. Meskipun masih ada beberapa golongan, yang mengaku paling Islam, ngotot mau merubah Pancasila.

Adanya upaya-upaya untuk mengganti Pancasila dengan ideologi khilafah, misalnya, merupakan sinyalemen adanya bibit-bibit ketidakpahaman di masyarakat bahwa sebenarnya Pancasila merupakan sebuah konsep yang dibenarkan oleh Islam. Jika bibit itu dibiarkan saja, bisa jadi akan tumbuh benalu yang merongrong konstitusi, atau bahkan yang lebih parah bisa timbul pemberontakan atau kudeta. Karena itu, agar bibit-bibit itu tumbuh ke arah yang produktif demi kemajuan bangsa dan negara, perlu kembali ditegaskan kebenaran hubungan agama dan negara dilihat dari perspektif hukum Islam.

Mengapa hukum Islam? Karena menurut mereka, yang menginginkan khilafah adalah Islam. Di samping memang kajian yang menyelesaikan polemik negara dan agama sudah banyak ditinjau dari perspektif lain. Dengan kata lain, jika mereka mampu memahami bahwa Islam tidak menginginkan khilafah, bibit-bibit itu akan dengan sendirinya banting setir menjadi mendukung negara Indonesia. Tulisan ini merupakan keterkejutan penulis bahwa ternyata Islam, secara historis,yang diramu dengan hukum Islam, tidak menginginkan negara khilafah.

Bahkan, Islam bukan hanya tidak menginginkan negara khilafah, tetapi Islam tidak membutuhkan instrumen negara untuk meraih tujuannya. Maksudnya, untuk mencapai tujuannya, sejarah Islam di masa Rasulullah saw tidak memanfaatkan kekuasaan. Ini poin pertama yang akan diuraikan tulisan ini.

Bahkan Islam tidak membenarkan membangun negara Islam, tanpa didahului mematangkan individu per individu. Artinya, bahwa yang harus membangun negara Islam itu adalah kematangan individu semua masyarakat, bukan sekelompok orang yang memaksakan untuk membangun negara Islam. Dengan kata lain, jika masyarakat menolak negara Islam, maka Islam tidak membenarkan mendirikan negara Islam. Karena Islam mementingkan pembangunan manusia dari dalam dirinya.

Jika sudah berdiri sebuah negara, atau pemimpin negaranya fasik atau non muslim, Islam tidak membenarkan untuk mengkudeta atau menjatuhkan pemimpin yang sah.Menjatuhkan pemimpin yang sah, atau usaha mendirikan negara Islam, atas nama jihad-perang tidak dibenarkan oleh Islam. Ini poin kedua yang akan diuraikan tulisan ini.

Ternyata Secara Historis, Islam Tidak Menginginkan Negara Khilafah

Syaikh Shafiyy al-Rahman mengisahkan di dalam al-Rahiq al-Makhtum, bahwa Uthbah Ibn Rabi', salah satu pemuka Quraisy, berembuk dengan para pembesar Quraisy yang lain, berkata, “Wahai kaum Quraisy, bagaimana jika kuhampiri Muhammad, berembug dengannya dan kutawarkan beberapa hal. Barang kali dia mau menerima penawan kita. Lalu kita berikan apa yang dia mau kepadanya, agar dia tidak mengganggu kita?”. Waktu itu, Rasulullah saw sedang duduk di Masjid al-Haram, sendirian.

Usul itu diterima. Kemudian, Uthbah menghampiri. Setelah basa-basi, dia berkata, “Wahai anak saudaraku. Sekarang dengarkanlah. Aku akan menawarkan beberapa hal kepadamu. Kamu bisa memeriksanya. Siapa tahu kamu mau menerima beberapa hal itu”. Rasulullah saw menjawab, “Katakanlah wahai Abu al-Walid (nama panggilan Uthbah). Biar kudengarkan”.

Uthbah berkata, “Wahai anak saudaraku. Jika kau menginginkan harta kekayaan sebagai pengganti dari apa yang kau bawa ini, maka kami siap menghimpun harta kami untuk diserahkan kepadamu. Sehingga, kau menjadi orang yang paling kaya di antara kami”. Maksud dari “apa yang kau bawa ini” adalah ajaran agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw.

“Jika kau menginginkan kedudukan”, lanjut Uthbah, “maka kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin kami, dan kami tidak akan menyisakan bagi orang selain dirimu. Jika kau menginginkan kekuasaan, maka kami akan mengangkatmu sebagai raja kami”. Uthbah masih menawarkan hal lain.
Setelah Uthbah selesai berbicara, baru kemudian Rasulullah saw bersabda, “Apakah kau sudah selesai bicara wahai Abu al-Walid?”. “Iya”, jawabnya. Rasulullah saw bersabda, “Sekarang ganti dengarkan ucapanku”. “Akan kulakukan”, jawab Uthbah. Kemudian Rasulullah saw membaca al-Quran surat Fushshilat sampai ayat sajadah.

Kisah ini juga disampaikan oleh al-Buthi dalam Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah (1991:127). Dengan redaksi, bahwa Rasulullah saw membaca surat Fushshilat hingga ayat “Jika mereka berpaling, katakanlah saya memberi warningkepada kalian berupa petir yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud” (QS Fushshilat [41]: 13). Uthbah lalu meminta berhenti karena takut isi ancaman yang terkandung di dalam ayat tersebut.

Rasulullah Saw Tidak Memilih Kekuasaan Sebagai Jalan Menyebarkan Islam

Seandainya jalan untuk menegakkan Islam adalah kekuasaan, tulis al-Buthi di dalam al-Jihad fi al-Islam Kayfa Nafhamuh wa Kayfa Numarisuh (1993: 185), maka sungguh Rasulullah saw tidak akan menolak kekuasaan itu, waktu ditawarkan oleh kaum Quraisy untuk menjadi raja dan berkuasa di kalangan mereka. Dengan catatan, bahwa beliau harus meninggalkan dialog dengan mereka tentang Islam dan berhenti berdakwah kepada mereka mengajak kepada Islam.

Semua orang Islam pasti tahu bahwa di antara sifat seorang Rasul adalah fathanah (cerdas). Tentu saja, seandainya kekuasaan atau khilafah adalah jalan untuk menegakkan Islam, Rasulullah saw tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk berkuasa dan memimpin kota Mekkah. Beliau bisa dan tentu saja mampu merancang sebuah negara yang diidam-idamkan Islam. Namun semua itu tidak beliau pilih.

Beliau memilih bersabar dan kokoh di dalam dakwahmeskipun dihalangi siksaan yang semakin menjadi-jadi. Jadi, jalan meraih tujuan Islam bukan melalui kekuasaan, melainkan melalaui jalan dakwah. Tujuan Islam itu, sesuai kronik sejarah ini, lebih efektif dan efisien menggunakan jalur pematangan individu per individu sehingga membentuk masyarakat yang sadar untuk menjalankan Islam berdasarkan kebebasan pilihannya masing-masing.

Mematangkan Masyarakat dari Dalam, Bukan Formalitas

Barang kali ada yang menyela, “Proses pematangan individu per individu itu akan memakan waktu yang panjang dan totalitas kesabaran”. Iya, dan itu yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw selama 13 tahun di Mekkah sehingga masyarakat secara sadar dan atas kehendak bebasnya sendiri menjalankan Islam menjadi periode terbaik sepanjang sejarah. Hal itumemang berat.Karena beban yang berat itu, maka disebut dengan jihad yang besar(QS al-Furqan [25]:52).

Setelah tawaran itu tidak mempan untuk menggoda Rasulullah saw dengan iming-iming kekuasaan, pembiokotan secara menyeluruh terhadap Nabi, selama 3 tahun itu terjadi.
Barang kali ada yang menyela, “Lalu bagaimana dengan hijrah Rasulullah saw untuk membangun kota Madinah”. Sejarah menjelaskan kepada kita bahwa beliau hijrah ke Yatsrib (kelak dikenal sebagai Madinah) bukan untuk membangun sebuah negara, melainkan untuk menghindari siksaan kaum Quraisy. Sebagaimana sebelumnya beliau hijrah ke Thaif. Begitu juga, para sahabat pernah hijrah ke Habasyah.

Yang membentuk Yatsrib sebagai 'negara Madinah' adalah kesadaran individu masyarakat, bukan paksaan Rasulullah saw. Janji setia (bay'at) oleh Rasulullah saw kepada para sahabat adalah mereka dengan kebebasan pilihannya sendiri untuk shalat, tidak berzina, tidak berbohong, tidak marah, dan lainnya. Bukan untuk mengangkat Rasulullah saw sebagai penguasa. Tetapi, bay'at itu merupakan pengakuan bahwa beliau adalah Rasulullah saw.

Jadi, Madinah merupakan kota yang dibangun oleh Rasulullah saw selama 13 tahun itu, bukan melalui instrumen formalisasi syariat dan kekuasaan. Melainkan melalui kesadaran masyarakat secara per individu tanpa paksaan sedikit pun. Itu adalah sifat alamiah Islam yang tumbuh di atas kebebasan akal dan hati.

Sungguh, sejarah Rasulullah saw, sifat alamiah agama Islam, dan realitas sejarah Islam, sudah memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa singgasana tempat Islam adalah hati dan akal. Bukan formalisasi syariah. Kemudian Islam hidup sebagai moral dan akhlak di masyarakat. Baru kemudian Islam menjadi mercusuar untuk menjaga masyarakat dan berkuasa. Begitulah rentetan perjalanan Islam sebagai kemajuan, peradaban, dan budaya. Jangan terbalik!

Kekuasaan yang dibangun oleh Islam bukan melalui pemaksaan dari atas ke bawah, melainkan melalui kesadaran dari masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah saw dengan cara mengajak (dakwah) dan menyampaikan (tabligh) berbentuk akhlak yang sopan dan santun.

Jika hal itu dilakukan secara terbalik, yaitu kekuasaan digunakan sebagai alternatif dari dakwah dan tabligh maka kekuasaan itu akan menjadi sumber kelemahan Islam itu sendiri. Sedangkan dakwah yang santun untuk menyebarkan perdamaian akan menjadi sumber kekuatan, kekokohan, dan hukum yang hidup di masyarakat.
Oleh:

0 Comments