Kembali Ke Al-Quran Atau “Hanya” Ke Terjemahan Al-Quran?
VQIHZ-1N7BP-MJGWR-MFFIO

Kembali Ke Al-Quran Atau “Hanya” Ke Terjemahan Al-Quran?

Bahasa asli dan bahasa terjemahan bisa jauh sangat berbeda. Apalagi bahasa al-Quran, memahaminya hanya

Bahasa asli dan bahasa terjemahan bisa jauh sangat berbeda. Apalagi bahasa al-Quran, memahaminya hanya berdasarkan terjemahan saja sangat mereduksi kekayaan maknanya yang sangat berlimpah.

Satu Kata Dengan Seribu Arti

Satu kata di dalam al-Quran bisa mempunyai sangat banyak arti. Sedangkan terjemahan hanya bisa menampung satu arti saja. Berarti, arti-arti yang lain dibuang begitu saja. Padahal, arti lain itu bisa juga benar, atau bisa jadi lebih tepat.

Sebagai contoh, bismillahi terdiri dari bi (dengan) ismi (nama) Allah (Allah). Biasanya, terjemahannya adalah “dengan menyebut nama Allah”. Sepintas lalu, tidak ada masalah dengan terjemahan ini. Tetapi, bagi santri yang belajar tata bahasa Arab, bi tidak hanya mempunyai arti “dengan”, tetapi juga mempunyai arti “menggunakan”, “menukar”, “kepada”, “bersama”, dan arti lainnya.

Setiap arti itu mempunyai konsekuensi hukum dan konsekuensi akidah yang berbeda. Sebagai tambahan informasi, beberapa arti itu dipelajari di dalam ilmu nahwu dan balaghah (sastra).

Satu Kalimat Dengan Seribu Perspektif

Satu kalimat di dalam al-Quran bisa mempunyai banyak perspektif. Sebagai contoh, bismillahi yang biasa diterjemahkan “dengan menyebut nama Allah”. Memahami bismillahi ini saja bisa dilihat dari berbagai perspektif. Santri yang banyak mengaji pasti mengetahui, bahwa di setiap Pembukaan Kitab yang berbeda, pasti dibahas kalimat bismillahi sesuai perspektif kitab itu.

Kitab fikih, membahas kalimat bismillahi dari perspektif fikih. Kitab tajwid, membahasnya dari perspektif tajwid. Kitab tauhid, membahasnya dari perspektif tauhid. Kitab tasawuf, membahasnya dari perspektif tasawuf. Kitab tafsir, membahasnya dari perspektif tafsir. Kitab nahwu, membahasnya dari perspektif nahwu. Kitab sastra (balaghah), membahasnya dari perspektif sastra. Kitab hadits, membahasnya dari perspektif hadits.

Di setiap Pembukaan Kitab itu, kalimat bismillahi mempunyai arti, pemahaman, dan konsekuensi yang saling berbeda. Lalu, bagaimana mungkin hanya mempunyai satu terjemahan saja? Tidak mungkin!

Ini “hanya” kalimat bismillah. Lalu bagaimana dengan tiga puluh juz Al-Quran itu? Apakah bisa dipahami seluas-luasnya hanya dari terjemahan saja? Tentu tidak bisa.


Bedah Jantung Oleh Orang Buta

Masalahnya, ada orang yang mencoba memproduksi hukum, akidah, atau status tradisi, hanya berdasarkan terjemahan. Orang yang hanya memahami nahwu (tata bahasa Arab) saja tidak bisa menyimpulkan hukum langsung dari al-Quran, apalagi hanya orang yang mengandalkan terjemahan.
Seseorang yang tidak menguasai usul fikih, tauhid, tafsir, dan hadits dengan baik, jangan coba-coba berusaha merumuskan hukum atau akidah langsung dari terjemahan al-Quran. Orang yang demikian, sama dengan orang buta yang berusaha melakukan pembedahan operasi jantung, padahal lisensi kedokteran saja dia tidak punya. Hasilnya, pasien bisa mati.

Al-Quran itu bahan mentah dan jantung ajaran Islam. Tidak sembarang orang bisa mengolahnya untuk menghasilkan sebuah produk dari al-Quran. Untuk memahami al-Quran, dibutuhkan banyak instrumen ilmu pengetahuan.

Untuk memahami hukum dari al-Quran, diperlukan ilmu usul fikih. Untuk memahami akidah dari al-Quran, dibutuhkan ilmu tauhid. Untuk memahami al-Quran secara benar, dibutuhkan ilmu tafsir al-Quran. Mempelajari usul fikih, tauhid, dan tafsir al-Quran bukan berarti menomor duakan al-Quran. Tetapi merupakan upaya untuk memahami al-Quran sesuai metodologi yang telah diakui benar dan tepat oleh para ahli.

Terjemahan al-Quran, Bukan al-Quran

Sebenarnya, pada sepertiga awal abad 20, perbedaan pendapat mengenai penerjemahan al-Quran sudah didiskusikan dengan tajam. Ada pro dan kontra. Tetapi, mereka semua sepakat, baik kubu yang pro maupun kubu yang kontra, bahwa terjemahan al-Quran bukan disebut al-Quran lagi.

Iya, terjemahan al-Quran adalah bukan al-Quran. Terjemahan al-Quran sudah bukan al-Quran lagi. Terjemahan al-Quran berbeda dengan al-Quran yang mempunyai keistimewaan, keunggulan, superioritas, dan sumber hukum Islam. Terjemahan al-Quran bukan merupakan sumber hukum Islam.
Terjemahan itu tidak disebut sebagai al-Quran, karena terjemahan bukan firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Terjemahan itu adalah kata dan bahasa manusia. 
Terjemahan itu juga bukan bahasa Arab, padahal al-Quran menyatakan bahwa al-Quran itu berbahasa Arab (QS Fushshilah: 3) dan (QS asy-Syu’ara’: 193-95).


Maka, orang yang mengajak kembali kepada al-Quran, lihat dulu, apakah dia mengajak kembali kepada al-Quran atau hanya kembali kepada terjemahan.

Saya jadi teringat kepada seorang sahabat yang sudah lama belajar tata bahasa Arab dan baru menekuninya dengan sungguh-sungguh. Dia berkata, “Ternyata, menelurkan hukum Islam tanpa tahu tata bahasa Arab adalah ngawur”. Dia baru menyadari bahwa untuk merumuskan hukum Islam dari al-Quran langsung, apalagi hanya dari terjemahan, benar-benar simplifikasi yang fatal dan menyesatkan. Apalagi, hanya bermodalkan terjemahan, lalu pontang-panting ke sana-sini untuk menyalah-nyalahkan, ini sungguh kedangkalan pengetahuan yang nyata.

Oleh:

0 Comments