Dipaksa Berbaiat Kepada Ali; Riwayat Bohong!
VQIHZ-1N7BP-MJGWR-MFFIO

Dipaksa Berbaiat Kepada Ali; Riwayat Bohong!

Fakta perang Jamal, sebuah perang yang disalahpahami sebagai peperangan antar ‘Aisyah ra dan ‘Ali ra. Padahal tidak demikian faktanya.

Dipaksa Berbaiat Kepada Ali; Riwayat Bohong!

Tulisan ini sebenarnya akan fokus kepada fakta perang Jamal, sebuah perang yang disalahpahami sebagai peperangan antar  ‘Aisyah ra dan  ‘Ali ra. Padahal tidak demikian faktanya.
Tetapi, untuk sampai pada episode perang Jamal, diperlukan pembahasan beberapa episode sebelumnya, yaitu terbunuhnya Utsman ra, pembaiatan Ali ra, dan upaya penegakan kisas (qishash). Episode-episode itu dicemari oleh kabut kebohongan dan kepalsuan. Karena itu, penting untuk memilah mana riwayat bohong dan riwayat yang sahih, agar tidak dicampur aduk dan tidak salah memberi status fakta.

Episode terbunuhnya Utsman ra sudah dibahas pada tulisan saya sebelumnya, di qureta.com. Sedangkan episode upaya penegakan kisas akan diuraikan pada tulisan ini dan tulisan setelahnya, insya Allah.

Pembaiatan Ali ra

Episode selanjutnya, setelah tragedi pembunuhan  ‘Utsman ra, adalah episode penduduk Madinah membaiat  Ali ra. Ath-Thabari meriwayatkan, yang sanadnya bersambung kepada Muhammad bin al-Hanafiyah, putra  Ali, saudara  Hasan-Husain ra, tetapi bukan putra  ‘Aisyah ra.

Muhammad bin al-Hanafiyah berkata, “Saya bersama ayahku di saat terbunuhnya ‘Utsman ra. Lalu ayahku berdiri dan memasuki tempatnya. Kemudian, para sahabat Rasulullah saw datang dan berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya, laki-laki ini sudah terbunuh. Sedangkan masyarakat harus mempunyai pemimpin (imam). Kami tidak melihat satu orang pun yang lebih berhak terhadap urusan ini dibandingkan engkau. Maka, mari kami akan membaiatmu’.

Kemudian,  Ali ra berkata kepada mereka, ‘Tidak! Bagi saya, menjadi wazir itu lebih baik daripada menjadi amir’. Para sahabat itu menjawab, ‘Demi Allah, kami tidak akan melakukan hal itu. Tetapi, kami akan membaiat engkau’.  ‘Ali berkata, ‘Jika demikian, di masjid saja. Karena pembaya’atanku tidak boleh tersembunyi. Pembaiatanku tidak boleh terjadi kecuali berdasarkan ridho dari kaum muslim’. Kemudian, dia pergi ke masjid, lalu sahabat anshar dan muhajirin membaiatnya. Baru setelah itu, para penduduk membaiatnya”.

Ali Tidak Berambisi Menjadi Khalifah

Dari riwayat itu diketahui bahwa,  ‘Ali ra tidak suka, tidak rida, dan tidak berambisi untuk dibaiat, baik sebagai sikap publik maupun privasi. Bahkan sebenarnya,  Ali ra benci dibaiat, sebagaimana riwayat al-Hakim di dalam al-Mustadrak-nya, bahwa pada hari peristiwa Jamal,  ‘Ali ra berkata, “Ya Allah, sesungguhnya saya berlepas diri kepada-Mu dari darah ‘Utsman”.

“Sungguh, akalku hilang pada saat mendengar informasi Utsman terbunuh. Saya mengingkari diriku sendiri. Lalu mereka mendatangiku untuk berbaiat. Maka saya katakan, ‘Sesungguhnya saya malu kepada Allah swt untuk menerima baiat orang-orang yang membunuh seseorang yang dinyatakan langsung oleh Rasulullah saw, ‘Apakah kamu tidak malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadany?’

Sungguh, saya malu kepada Allah swt, untuk menerima baiat, sedangkan 'Utsman terbunuh dan belum dikuburkan’”. Setelah  ‘Utsman ra dikuburkan, mereka kembali memintanya untuk dibaiat, lalu berkata, “Ya Allah, sesungguhnya saya khawatir terhadap apa yang akan saya hadapi. Kemudian terjadi baiat. Ketika mereka berkata, ‘Wahai amirul mukminin’, sungguh seakan-akan hatiku pecah. Ya Allah, ambillah hak ‘Utsman dariku hingga Engkau ridho”.

Kebohongan Di Sekitar Pembaiatan Ali ra 

Kisah di atas menunjukkan, tutur Dr. Sa’id al-Kamali, tidak satu sahabat pun yang menolak pembaiatan terhadap  Ali ra di Madinah, baik  Thalhah ra,  Zubair ra,  Sa’ad ra, maupun para sahabat yang lainnya.

Jika anda membaca beberapa buku sejarah, bahkan di dalam ath-Thabari dan karya-karya setelahnya, akan anda temukan bahwa  Zubair berkata, “Saya didatangi salah satu pencuri dari Abd al-Qays. Maka saya berbaiat, dalam keadaan ditodong pedang di atas leher saya”.  Thalhah ra berkata, “Saya berbaiat karena ditodong dengan pedang di atas kepala saya”. Semua itu adalah kebohongan dan tidak sahih, karena sanadnya terputus, atau tersambung dengan para perawi yang lemah.

Bahkan, tidak satu sahabat pun yang tidak membaiat  ‘Ali ra. Iya memang ada beberapa sahabat yang ragu untuk membaiat lebih dahulu. Tetapi, setelah para penduduk Madinah membaiat  ‘Ali ra, maka tidak satu sahabat pun yang tidak membaiatnya, di Madinah. Adapun orang-orang di luar Madinah, itu ada cerita tersendiri. Barangkali akan ada tulisan tersendiri tentang hal ini. Sedangkan para sahabat yang ada di Madinah, tidak satu pun yang tidak membaiatnya.

Usaha Penegakan Had 

 Ali ra dibaiat pada waktu Madinah sedang menyala api fitnah. Pada waktu itu, perlu diperhatikan bahwa para pembunuh ‘Utsman masih ada di Madinah, mempunyai pengaruh dan kekuatan yang besar, sehingga pada detik itu,  ‘Ali ra tidak mampu menegakkan had terhadap para pembunuh khalifah sebelumnya.

Ath-Thabari meriwayatkan, kemudian  Thalhah ra,  Zubair ra, bersama para sahabat lainnya, setelah berbaiat, mendatangi  ‘Ali dan berkata, “Wahai Ali, kami mensyaratkan penegakan had. Para pembunuh ‘Utsman bekerja sama”. Jadi mereka ingin menegakkan had.

Kemudian  ‘Ali menjawab, “Wahai saudaraku. Demi Allah, saya bukan tidak tahu apa yang kalian ketahui. Tetapi, apa yang bisa saya perbuat terhadap orang-orang yang ‘menguasai’ kita sedangkan kita tidak ‘menguasai’ mereka. Perhatikan mereka! Budak-budak kalian berontak bersama mereka. Para arab badui berkumpul dengan mereka. Mereka berada di tengah-tengah kalian dan mampu melakukan apapun terhadap kalian. Apakah kalian masih berpendapat bahwa kalian mampu melakukan kisas itu?”. Mereka menjawab, “Tidak”.

Kemudian  ‘Ali ra menjawab, “Demi Allah, saya tidak berpendapat kecuali dengan pendapat kalian, dengan kehendak Allah”. Jadi,  Ali ra ingin menunda penegakan kisas hingga fitnah mereda dan semua kalangan menyuarakan satu pendapat. Jika kondisi itu terpenuhi, maka Ali ra akan menegakkan kisas sesuai prosedural.

Allah swt berfirman, “Dan barang siapa dibunuh secara zhalim, maka sungguh, Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya (Qs al-Isra’ [17]: 33)”. Sesuai ayat ini, proseduralnya adalah, si wali sebagai Penuntut Darah dari Utsman yang terbunuh akan menuntut, dan Ali akan menghadirkan para pembunuhnya yang sudah diketahui, sehingga bisa diputuskan di dalam sidang pengadilan, sesuai hukum Islam.

Karena itu,  Ali ra berkata kepada mereka, “Sesungguhnya, keputusan ini, di mana saya mengajak kalian agar menyetujui keputusan ini, menenangkan dan tidak mengagetkan mereka, merupakan kebaikan dan lebih baik dari petaka yang akan ditumbulkan dari penegakan kisas yang tidak tepat waktunya”.

Waktu itu  Ali ra ingin memisahkan para pembunuh itu dari ‘para pendukungnya’. Perlu diketahui bahwa pada waktu itu, orang-orangnya Ibnu Saba’ didukung oleh para budak dan arab badui. Sedangkan masyarakat sangat banyak di Madinah. Fitnah itu tidak akan reda kecuali para pembunuh itu dipisahkan dari para pendukungnya. Karena itu,  Ali ra mengumumkan di depan publik, “Seorang budak yang tidak kembali kepada tuannya, maka statusnya tidak terjamin (bari’at adz-dimmah)”.
Maksud dari bariat adz-dimmah, jika budak itu terbunuh maka tidak ada lagi yang akan membela dan menuntut keadilan untuknya. Budak itu sudah tidak punya hubungan lagi dengan tuannya, kabilahnya, dan siapapun.

Tiga Hari Setelah Pembaiatan Ali 

Lalu, pada hari ketiga dari pembaiatannya, Ali ra berkata lagi di hadapan publik, “Wahai manusia, keluarkan para arab badui dari tempat kalian!”. Maksudnya, keluarkan para arab badui itu dari kota Madinah, “Wahai arab badui, pulanglah kalian ke kabilah dan tempat kalian”.
Tetapi, para budak tidak kembali kepada tuannya dan para arab badui tidak keluar dari Madinah.
Maka, ketika Thalhah dan Zubair melihat bahwa urusan ini tidak berjalan sesuai rencana, dan bahwa kekuasaan para pembunuh Utsman itu semakin menguat, mereka berdua mengemukakan sebuah usulan kepada Ali ra.

Thalhah berkata, “Biarkan saya pergi ke Bashrah. Saya tidak akan mendatangimu kecuali saya bersama sebuah pasukan”. Zubair berkata, “Biarkan saya pergi ke Kufah. Saya tidak akan mendatangimu kecuali saya bersama sebuah pasukan”. Jadi, mereka berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi dan memerangi para pembunuh itu.
Ali ra berkata kepada mereka berdua, “Saya akan pikirkan”. Ali tidak mengabulkan usulan mereka berdua karena Ali khawatir jika pasukan-pasukan berdatangan ke Madinah maka akan terjadi peperangan dan pembunuhan di wilayah Rasulullah saw. Jika hal itu terjadi, betapa banyak darah akan mengalir, kehormatan dirobek, dan syahwat dilampiaskan. Ali enggan mengabulkan usulan itu.

Empat Bulan Setelah Utsman Terbunuh

Empat bulan kemudian, terhitung dari terbunuhnya Utsman dan dibaiatnya Ali, kisas itu belum bisa ditegakkan. Para sahabat tidak menyangka akan terjadi kerumitan, kerunyaman, dan kesulitan seperti ini, sehingga thalhah dan zubair menemui ali dan berkata, “Jika begini terus, kami akan keluar dari Madinah”. Ali berkata kepada mereka berdua, “Saya akan mengendalikan urusan ini sebisanya. Jika memang harus terjadi, maka obat terakhir adalah membakar kulit dengan besi panas”
“Obat terakhir adalah membakar kulit dengan besi panas” merupakan sebuah pepatah Arab yang maksudnya, jika pendekatan persuasif tidak berhasil, maka pendekatan yang lebih tegas akan diambil.
Thalhah dan zubair keluar dari Madinah dan berangkat menuju Mekah. Mereka berdua sebenarnya ingin berkeliling ke kota-kota untuk membangkitkan seluruh kaum muslim agar menuntut penegakan kisas terhadap para pembunuh khalifah sebelumnya Utsman. Tujuan pengerahan pasukan sebesar itu agar para pembunuh tersebut tidak mampu melawan pasukan yang sangat besar sehingga kisas bisa ditegakkan.

Mereka berdua sampai di Mekah, di mana pada saat itu para istri Rasulullah saw berada di sana. Mereka mendatangi Aisyah agar bergabung dengan mereka, karena Aisyah adalah Ibunda Kaum Mukmin (Umm al-Mu’minin). Dengan digandengnya Aisyah, kaum muslim yang melihatnya diharapkan mau bergabung.

Hafshah, istri Rasulullah saw yang lain, juga ingin berangkat mendampingi Aisyah, tetapi saat itu Abdullah bin Umar ra datang dan berhasil mengurungkan niat Hafshah. Hafshah lalu minta izin kepada Aisyah untuk tidak berangkat bersamanya, sehingga Hafshah tidak jadi berangkat.

Aisyah Ingin Pulang Ke Madinah

Ath-Thabari menyebutkan, bahwa Zubair dan Thalhah berkata kepada Aisyah yang ingin pulang ke Madinah bersama para istri Rasulullah yang lain, “Wahai Ibunda Kaum Mukmin, jangan berangkat ke Madinah. Mari bersama kami berangkat ke Bashrah, karena kita akan mendatangi orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan akan memprotes kita tentang pembaiatan Ali, lalu engkau membangkitkan mereka sebagaimana engkau membangkitkan penduduk Mekah. Kemudian engkau duduk. Jika kebaikan yang kita harapkan terjadi, maka segala puji bagi Allah. Jika tidak, maka kita sudah berusaha sekuat tenaga”.

Aisyah menyetujui ide tersebut dan berangkat bersama mereka ke Bashrah. Tetapi di tengah perjalanan, terjadi sebuah peristiwa yang hampir mengalihkan tujuan dan membawanya berbalik pulang, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, dan yang lain dari Qais bin Abi Hazim berkata, ketika Aisyah berangkat dan sudah sampai di perairan Bani ‘Amir, anjing-anjing menggonggong.

Aisyah bertanya, “Air apa ini?”. Mereka menjawab, “Air Haw’ab”. Aisyah berkata, “Saya berpendapat, saya harus pulang”. Orang yang bersamanya berkata, “Malah seharusnya anda semakin maju, mudah-mudahan Allah mendamaikan masyarakat melalui anda”. Memang perdamaian adalah tujuan Aisyah. Aisyah ra berkata, “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa di antara kalian, (wahai istri-istriku), yang akan digonggongi oleh anjing-anjing Haw’ab’”.
Tetapi, tujuan Aisyah untuk mendamaikan kaum muslimin sangat kuat hingga dia lupa keinginannya untuk pulang dan lupa pula terhadap profecy Rasulullah saw itu terjadi.

Ali Mendengar Informasi

Ketika mereka masih di dalam perjalanan menuju Bashrah, Ali mendengar informasi bahwa Thalhah, Zubair, dan Aisyah berangkat menuju Bashrah untuk menghimpun pasukan dan akan menuntut Penegakan Hak Darah khalifah yang terbunuh, Utsman. Perlu diperhatikan, bahwa yang terbunuh itu adalah seorang khalifah, seorang pemimpin sebuah negara, bukan satu orang rakyat jelata.

Bahkan, Umar pernah berkata, seandainya seluruh rakyat Quba’ dan Madinah bersekongkol untuk membunuh satu rakyat jelata, maka seluruh pembunuh itu akan dikisas. Ini rakyat jelata. Lalu bagaimana dengan seorang khalifah! Urusan ini bukan hal sepele! Ditambah fakta bahwa kekuatan para pembunuh khalifah Utsman ra itu semakin bertambah.

Ketika Ali mendapatkan informasi bahwa mereka berangkat ke Bashrah untuk menghimpun pasukan, Ali khawatir jika mereka, Thalhah, Zubair, dan Aisyah membawa pasukan dari Irak ke Madinah, sedangkan Ali juga didukung oleh pasukan, dikhawatirkan akan terjadi fitnah yang mencelakakan kaum muslim. Lalu Ali berangkat menuju mereka sebagai langkah antisipasi agar kekhawatiran itu tidak terjadi.

Ketika sampai di sebuah tempat yang bernama Dhi Qar, Ali mengutus Qa’qa’ bin ‘Amr. Perkataan Ali terhadap Qa’qa’ akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Oleh:

0 Comments