Benarkah Islam Agama Damai?
VQIHZ-1N7BP-MJGWR-MFFIO

Benarkah Islam Agama Damai?

Bertanya, “Benarkah Islam adalah agama damai?”, sama dengan bertanya, “Benarkah love atau hubb adalah cinta?”. Jawabannya,


Bertanya, “Benarkah Islam adalah agama damai?”, sama dengan bertanya, “Benarkah love atau hubb adalah cinta?”. Jawabannya, iya. Love adalah bahasa Inggris yang artinya adalah cinta. Hubb adalah bahasa Arab yang artinya adalah cinta. Lalu, Benarkah Islam adalah agama damai? Uraian sederhana di bawah ini bisa menjadi salah satu jawabannya.

Asal Kata Islam

Islam adalah kedamaian. Islam bukan hanya agama. Hal itu bisa dilihat dari, bahwa kata “islaam” berasal dari bahasa Arab, salaam yang artinya kedamaian. Salaam adalah kata intransitif (laazim). Sedangkan kata islaam sendiri adalah bentuk transitif (muta’addi) dari kata salaam, sehingga artinya adalah mendamaikan. Jadi sebenarnya, Islam bukan hanya kedamaian, tetapi juga menciptakan kedamaian. Dengan kata lain, Islam secara bahasa bisa memiliki dua arti sekaligus, yaitu kedamaian dan mendamaikan atau menciptakan kedamaian.

Implikasinya, secara realitas Islam mempraktikkan kedamaian. Islam mempraktikkan kedamaian kepada manusia, hewan, makhluk hidup, dan bahkan kepada benda mati. Banyak sekali praktik kedamaian yang didedikasikan oleh Islam, baik kepada manusia, hewan, makhluk hidup, dan bahkan kepada benda mati tersebut.


Berdamai Dengan Manusia

Untuk hanya menyebut satu contoh, Islam memuji dan menganjurkan untuk memaafkan kepada orang yang menganiaya, dan melarang balas dendam. Manusia, jika saling memaafkan dan menghindari balas dendam, maka akan menyuburkan kedamaian yang melimpah.

Seseorang yang tidak mau memaafkan, hatinya akan digenangi oleh lumpur amarah. Amarah itu akan semakin keruh dan bau. Hati yang dipenuhi keruh dan bau amarah, akan mengaktifkan balas dendam dan niat busuk lainnya. Akibatnya, amarah dan balas dendam akan menciptakan mata rantai kebencian yang setahap demi setahap akan mengeroposkan dan melenyapkan kedamaian.

Untuk memutus mata rantai kebencian dan dendam itu, adalah dengan maaf. Mekipun sangat pahit, maaf adalah obat ampuh untuk menyembuhkan amarah dan dendam, lalu menciptakan kedamaian. Karena itu, Islam menegaskan bahwa memaafkan itu lebih baik bagi orang yang berakal.

Berdamai Dengan Hewan

Islam melarang menyiksa hewan. Bahkan, Islam menganjurkan agar pisau yang digunakan untuk menyembelih hewan harus tajam, agar tidak menyiksa hewan itu. Selain itu, Islam mewajibkan memotong dua urat di leher hewan yang disembelih, agar hewan itu tidak merasakan kesakitan dan tidak tersiksa. Islam juga menganjurkan agar hewan tidak disembelih di depan hewan yang lain, agar hewan lain itu tidak merasa ketakutan. Perhatikan bagaimana Islam menjaga “perasaan” hewan begitu mendalam.

Jika kepada hewan saja, Islam memberikan perhatian yang sangat mendalam, maka tentu saja Islam juga sangat memperhatikan untuk menciptakan kedamaian di antara umat manusia. Oleh karena itu, Islam mengecam tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kedamaian.

Berdamai Dengan Benda Mati

Islam menganjurkan agar tidak meniup makanan dan minuman, karena meniupkan nafas bisa mentransfer kuman ke dalam makanan dan minuman, dan mengeluarkan gas CO2 yang bisa menjadi masalah bagi kesehatan. Islam sengaja melarang hal itu, karena menjaga agar makanan dan minuman itu, yang merupakan benda mati, tidak “tersakiti” oleh kuman atau racun itu.


Jika Tidak Melihat Kedamaian Di Dalam Islam

Ada seorang anak yang mengadu kepada ayahnya. “Ayah, kenapa di masjid itu berisik, kotor, tidak ada yang khusyu’, dan bla bla bla”. Anak itu dengan semangat menjelaskan sederet sudur-sudut negatif dari masjid yang baru saja dia hampiri. Ayahnya dengan seksama mendengarkan. Sambil tersenyum, ayahnya berkata, “Wahai anakku, ambilkan ayah segelas air penuh”.


Anak itu bingung. Ayahnya tidak menjawab semua keluh kesahnya, dan malah menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan apa yang dia sampaikan. Sebagai anak yang berbakti, anak itu mematuhi ayahnya. Dia mengambil gelas plastik dan memenuhinya dengan air. Setelah itu, dia menyerahkan gelas plastik yang penuh air itu kepada ayahnya. Tetapi, ayahnya menolak dan berkata, “Wahai anakku, kelilingi masjid ini. Jangan sampai air itu tumpah sedikit pun!”.

Sekali lagi, anak itu bingung. Ayahnya menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak dia mengerti. Tetapi dia tetap melakukan apa yang disuruh oleh ayahnya. Beberapa menit kemudian, anak itu kembali ke hadapan ayahnya. Ayahnya berkata, “Wahai anakku, apakah engkau mendengar suara berisik di masjid itu?”. Belum sempat anak itu menjawab, ayahnya sudah bertanya lagi, “Apakah engkau melihat kotoran dan orang-orang yang tidak khusyu’, dan bla bla bla?”. Anak itu menjawab, “Tidak. Saya tidak melihat semua itu”.

Ayahnya berkata, “Wahai anakku, engkau melihat suara berisik, kondisi yang kotor, dan orang-orang yang tidak khusyu’, karena engkau hanya fokus pada hal-hal keruh itu. Tetapi, saat engkau fokus agar tidak menumpahkan air di dalam gelas itu, engkau tidak melihat kekeruhan itu”.

Kisah ini memberi tahu, bahwa jika Islam, baik dalam bentuk person, kelompok, ajaran, ajakan, cara, tindakan, sikap, ucapan, status, dan hal-hal lainnya, hanya terlihat sisi-sisi buruknya saja, barangkali kita harus mulai fokus pada air yang jernih, bening, dan harum.

Mencari Kedamaian

Selanjutnya, mari kita introspeksi diri, apakah Islam yang kita jalankan menempuh jalan damai untuk menggapai kedamaian itu. Jika jalan yang kita tempuh tidak mencerminkan kedamaian, pasti ada yang perlu dibenahi. Karena, Islam tidak menerima cara-cara yang tidak islaam dan tidak salaam, meskipun tujuannya benar.

Islam adalah kedamaian dan mendamaikan. Maka, cara-cara yang ditempuh harus berbentuk kedamaian dan mendamaikan. Jika cara yang ditempuh tidak berbentuk kedamaian dan tidak mendamaikan, kita harus introspeksi diri. Begitu juga, tujuan Islam adalah kedamaian dan mendamaikan. Jika tujuan yang mulia ini ditempuh dengan cara anarkis, kekerasan, dan teror, maka hal itu sudah salah jalur dan perlu segera dibenahi.
Oleh:

0 Comments